Postingan

YAD

Pada genggam yang mana kau tak akan melepaskan?

Sebilang kali aku ingin pergi, kau selalu menghadangku. 
“Jangan pergi dulu, kita belum selesai” Katamu. 
“Memangnya apa yang kita mulai sedari tadi?” Tanyaku.
Kahwa yang kau pesan tersungkur ke lantai yang belum siap menerimanya.

TENGKUJUH

Di kamar tidurmu, petir menggelegar. Menyambar segala kenang yang bertengger di dinding-dinding waktu.

Keluarga bantal bersembunyi entah ke mana. Meninggalkan ranjang yang sudah duluan basah diguyur hujan. Cermin bergeming melihat ranjang kesepian.
Waktu itu, kau entah ke mana. Kamar tidurmu jadi bulan-bulanan; tempat segala duka ditumpahkan. Banjir menyusul kedatangan.

TATAP

Tatap adalah jurang paling curam. Kau bisa saja jatuh ke dalamnya secara tiba-tiba; sampai kau sadar bahwa dirimu tersesat di kejauhan. Tak ada cahaya atau pun jalan keluar. Namun, matamu adalah segala yang terang.

DADAMU YANG BIRU

Di sebuah rumah terdengar suara bising. Seperti angin yang marah, meronta. Malam pekat, aku terikat pada bulan yang memandangku sendirian. Tak ada bintang.

Tiba-tiba, seorang perempuan keluar dari sana. Kami saling tatap.
“Siapa kau?” Ia bertanya.
“Kau yang siapa?”
“Aku adalah luka lamamu. Kau tak lihat bekas yang ada di dadaku?”
Ia seperti ingin menangis. Seperti ingin menciptakan segaranya sendiri.
“Aku melihatnya. Ada kenang di situ.”
Perempuan itu tiba-tiba hilang ditelan malam. Aku baru sadar. Bahwa ia adalah istriku yang telah lama hilang.

HUJAN BULAN JUNI DAN MEJA KANTIN

Lebih dari sepi, sapardi kau genggam dan berharap ia menemani: sia-sia. Detak jantungmu mengejutkan meja yang masih tidur. Sepagi ini kau sendiri, melihat lalu-lalang dan bahagia yang dikejar siapa saja.

Tak ada kopi, hanya sisa rindu di keningmu yang kering; ke mana laki-laki itu?
Apa arti membalas dan melerai?

LAMPU YANG BELUM MATI WALAU PAGI SUDAH HIDUP

Di jembatan: lalu-lalang menggema, seperti antrian kenang yang memanjang di sudut luka. Sungai di bawahnya kering meranggas.

Tak ada ayar yang biasanya dipakai untuk mandi, berenang, dan mencuci.
Lampu yang sering menemani malam sebenarnya paham apa arti terang dan redup. Tapi, cahaya tetaplah satu dan batas menerangi adalah pagi.
Ia tetap hidup walau pagi sudah bangkit dari mati suri.
Di jembatan: tak ada deru kereta besi lagi.

ANAK-ANAK KECIL YANG SEDANG BERMAIN KELERENG

Tepat di depan rumah itu, ada sebuah halaman yang cukup luas. Tanahnya keras, berwarna coklat, dan tidak terlalu lembab. Biasanya anak-anak kecil itu semuanya berkumpul di situ. Sambil membawa koleksi planetnya masing masing dan tak lupa memilih satu planet yang akan dijadikan jagoan di dalam permainan nanti. Di dalam planet itu biasanya ada isi yang berbeda-beda. Katanya isi yang warnanya berbeda-beda itu jelmaan dari ultraman, tokoh fiksi yang merupakan ksatria penumpas kejahatan yang berasal dari jepang. Sebab: ketika ultraman telah selesai menghabisi musuhnya, ia akan terbang ke langit. Untuk kembali ke planetnya dan planet itu sekarang ada di tangan anak-anak yang sedang berkumpul di sebuah halaman itu. Sore itu, semua anak-anak telah berkumpul di halaman itu. Semuanya membawa koleksi planetnya masing-masing dan tak lupa memilih jagoannya masing-masing. Pertama, sebelum permainan dimulai. Salah satu anak membuat garis tata surya. Di dalam tata surya tersebut terdapat beberapa seb…